Serba-Serbi

Rasa Malu Kian Menipis | 28 Maret 2009

Seseorang merasa malu ketika harga diri atau kehormatan pribadinya ternista atau terhina karena bersalah. Kesalahan yang dia lakukan sama dengan dosa karena bertentangan dengan nilai moral agama dan budaya sebagai kebenaran umum yang dianutnya bersama masyarakat. Mencuri atau merampok, berselingkuh atau berzina, dusta atau menipu, menaruh iri, dengki, dan benci kepada sesama, menganiaya atau membunuh adalah dosa sebagai aib moral atau aib budaya. Menempuh cara jahat untuk mencapai tujuan, termasuk tujuan baik, merupakan aib. Tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik pula.

Namun, kenyataan yang dapat disaksikan setiap hari menunjukkan bahwa rasa malu semakin menipis. Semakin menipis atau bahkan hilangnya rasa malu seseorang ketika dia tetap bersikap seakan-akan tak bersalah meski semua orang tahu dan yakin bahwa dia telah berbuat jahat dengan mencuri atau berzinah. Dapat disaksikan setiap hari seorang koruptor atau perampok uang da harta milik negara yang tanpa rasa malu sedikitpun dan bahkan dengan bangga tampil sebagai seorang kaya. Sebagai seorang kaya atau hartawan, dia seringkali menutupi aibnya dengan kegiatan sosial sebagai dermawan. Seharusnya, dia merasa malu karena sudah sangat terhina oleh kejahatannya.

Betapa mulia, terhormat, dan indahnya jika setiap diri kita mengasah kepekaan rasa malunya. Seseorang harus merasa malu karena telah berbuat kejahatan seperti kejahatan korupsi atau malu karena telah berdusta atau berbohong dan menipu sesama serta mengibuli masyarakat demi memperoleh keuntungan materi atau jasa. Seseorang yang merasa malu demikian sesungguhnya sadar bahwa dia telah berlaku tidak jujur, baik terhadap orang lain, maupun terhadap dirinya sendiri.

Selain merasa malu demikian, seseorang pun harus merasa malu jika dia sadar bahwa dia tidak berbuat kebaikan kepada orang lain atau kepada sesama warga di tengah-tengah masyarakat. Dia akan merasa malu kalau miskin karena tidak bekerja keras sebagai amal kebaikan bagi dirinya dan bagi orang lain yang membutuhkannya. Dengan kata lain, seseorang bukan saja merasa malu jika berbuat jahat kepada orang lain, melainkan juga merasa malu jika tidak dapat berbuat kebaikan kepada sesamanya.

Rasa malu demikian akan semakin menipis dan bahkan sirna total dari diri seseorang jika dia memelihara rasa angkuh, memanjakan diri dengan ketamakan, dan membentengi dirinya dengan sifat kikir. Karena keangkuhannya, dia akan menjadikan dirinya atau egonya sebagai fokus pelayanan dan pengabdian oleh masyarakat. Dengan sifat tamak, dia akan mengambil apa saja yang bukan miliknya menjadi miliknya. Dengan sifat kikirnya, dia akan melimpahkan seluruh pemberian masyarakat dan hasil rampasannya bagi pemuasan hawa nafsu akan materi atau demi perolehan sanjungan kehormatan bagi egonya semata tanpa tahu diri. Jika ada yang disumbangkan bagi masyarakat, maka yang diperbuat justru penipuan atau sedekah palsu sebagai ulah kejahatan sosial untuk melayani keangkuhannya. Asahan kepekaan rasa malu harus dicontohkan oleh para pemimpin, para elite, dan tokoh-tokoh politik di negeri ini.


Ditulis dalam Sosial-Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

    Kalender

    Maret 2009
    S S R K J S M
        Apr »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

    Berbagi Itu Baik

    Di dalam Blog ini, saya paparkan segala informasi yang kuketahui dan yang kudapatkan. Memang hanyalah Blog sederhana, namun akan sangat berarti bagi beberapa orang. Kirimkanlah komentar, saran dan kritik anda, sehingga Blog saya akan menjadi lebih baik lagi ke depannya... Terima Kasih....

    Klik tertinggi

    • Tak ada

    Statistik Blog

    • 13,284 hits
%d blogger menyukai ini: